Yogyakarta memang berbeda, dia mampu membuat semua orang yang pernah datang kepadanya, akan kembali datang kepadanya, lagi, lagi dan lagi. Namun, pernahkah kita berpikir tentang apa sih yang sebenarnya membuat kita kembali ke Jogja?
Apakah mungkin karena Jogja menerima semua yang datang kepadanya?
Ya, Jogja memang menerima semua yang datang kepadanya, apapun tujuannya dan seberapapun tipis kantongnya. Kita memang bisa datang ke Jogja untuk berwisata dan berbelanja dengan mewah maupun murah meriah, mengunjungi kampus impianmu sekaligus membayangkan kebebasanmu berkespresi ketika hidup di Jogja, membenahi diri setelah hancur lebur karena dia, atau sekedar nongkrong di Malioboro tanpa tujuan tertentu.
Dalam ingatan nostalgic saya, Jogja juga tidak akan menghakimi keadaan atau kebodohanmu ketika kamu datang kepadanya. Jogja hanya menerima dan memberi ruang untuk sejenak bernapas dan menikmati hari-hari tanpa tuntutan, selain membayar akomodasi dan fasilitas sesuai dengan kenyaman pilihan kita tentunya (LOL).
Bagi saya, Jogja adalah sosok sahabat lama yang menemani saya jatuh bangun dalam kehidupan remaja hingga awal dewasa saya. Jogjalah yang membuat saya belajar tentang banyak hal yang sepertinya tidak akan pernah saya dapatkan di kota lainnya. Karena Jogja memberi lebih dari sekedar titel yang membanggakan diri dan orang tua saya. Namun dia juga mampu membuka mata, pikiran dan hati saya tentang hidup yang penuh warna, bukan sekedar hitam dan putih saja. Jogja telah berhasil membentuk diri saya yang penuh toleransi terhadap keberagaman manusia lainnya, dan Jogja pula yang membuat saya memahami tentang sebuah komitmen untuk tetap menjadi manusia baik walaupun mungkin tidak dianggap sebagai manusia baik-baik oleh norma masyarakat. Sebab itu saya bersyukur bahwa Jogja tidak menghakimi siapapun yang datang kepadanya, lagi, lagi, dan lagi. Meskipun mungkin telah bergeser pada masa ini.
Saya yakin, menjadi penduduk Jogja tidak semenyenangkan ketika jadi pendatang. Karena, darah AB dan tanah kelahiran sayapun tidak mampu menjamin kehidupan saya di Jogja, seolah ada aturan tidak tertulis tentang dia yang tidak sesuai dengan default orang Jogja, maka selamanya akan menjadi liyan di Yogyakarta.
Ibarat menyatakan cinta pada seorang sahabat lama yang bertepuk setelah tangan. Jogja justru memaksa saya untuk pergi ketika saya ingin kembali padanya. Berkali-kali Jogja menunjukkan kuasanya dan terus meyakinkan saya bahwa memang tidak lagi memiliki tempat bagi saya untuk berkarya dan menghidupi diri di Kota ini. Pilihan saya hanyalah : tinggal untuk kehilangan diri lalu mati, atau pergi untuk memulai lagi, from the very bottom of everything. Tanpa jaminan kehidupan yang lebih baik, tapi seolah lebih berpotensi untuk hidup sedikit lebih lama ketimbang tetap tinggal.
Dengan berat hati, saya meninggalkan Jogja dengan penuh kesadaran dan sedikit ketakutan akan masa depan. Tapi sebagai salah satu manusia yang pernah mencintai Jogja sebegitunya pada masa remaja saya. Saya tidak pernah sanggup untuk membencinya. Jogja terlalu banyak memberi, meski tidak lagi kini. Dan saya menyadari, rupanya saya tidak pernah sekedar mencintai Jogja sebagai seorang sahabat lama. Dia adalah cinta pertama saya, yang akan selalu “Istimewa” meskipun tidak lagi “Berhati Nyaman”.
