Ketika Terpaksa Starting Over at 40+

Ketika Terpaksa Starting Over at 40+

Pada umumnya, manusia dianggap normal ketika hidupnya stabil di usia 40 tahun. Dengan keluarga yang bertumbuh dan bahagia, rumah yang hangat, kendaraan yang nyaman serta mimpi-mimpi yang terbagi untuk anak-anak yang mulai beranjak remaja. Tapi, bagaimana jika ternyata slogan life begins at 40 itu nyata terjadi di hidupmu? Bukan untuk memulai hal baru karena semua terasa lebih stabil, tapi terpaksa harus memulai hidupmu yang baru ketika semua hancur lebur di usia 40 tahunmu itu? Ouch, it’s not going to be as easy as when we were teenagers.

Memulai ketika remaja dan memulai lagi ketika kita berusia 40 tahun tentunya memiliki tantangan yang berbeda. Tidak ada yang lebih sulit apabila keduanya dibandingkan, karena nyatanya, banyak dari kita yang juga struggling pada masa remaja dan tidak semua dari kita berhasil melewati usia 40 tahun. Jadi, selamat bagi kamu yang akhirnya mengalami hidup di usia 40 tahun meskipun berjalan tertatih.

Jadi, apakah benar lebih sulit dari masa remaja? Rasanya tidak, hanya sedikit lebih lelah saja karena terus lari-larian dari tanggung jawab, tagihan cicilan panci dan DC pinjol. Jadi wajar ya kalau juga jadi sedikit lebih ngantukan. Lebih pikun dari sebelumnya yang sudah pikun. Lebih ignorant dari yang sebelumnya sudah ignorant. Dan mungkin hidup juga jadi lebih sepi ketimbang beberapa tahun lalu. Sialnya, diantara teman-teman yang makin kaya, entah kenapa kita justru merasa makin miskin, bukan cuma sekedar materi, tapi juga secara emosional.

Saya sebenarnya yakin banget, bukan cuma saya saja yang sedang menghadapi hal ini, tapi saya pun yakin bahwa kami semua yang senasib tapi tidak sepenanggungan ini, sudah terlalu lelah menata hidup yang terlanjur porak-poranda, dan tidak lagi sanggup untuk bersosialisasi, apalagi saling menyapa. Bukan, bukan karena mereka yang toksik. Justru karena mungkin kamilah si toksik diantara mereka yang hidupnya tampak shining shimering splendid itu.

Teman-teman yang (semoga) berbahagia, kelelahan emosional ini adalah hal yang wajar terjadi ketika kita terlalu lama berada pada posisi bertahan hidup. Bahkan saking lelahnya, bisa saja dukungan emosional yang diberikan oleh keluarga atau pasangan kita justru terasa mencekik dan tidak nyaman. Ketika si pasangan ingin terus mendampingi dan berjuang bersama, bisa jadi hal itu akan tetap sia-sia, karena kita yang dia perjuangkan sudah tidak lagi ingin diperjuangkan. Kita sebenarnya hanya ingin bertahan hidup sebisa mungkin, dengan menyingkirkan semua hal yang membuat kita tidak nyaman, termasuk keluarga atau pasangan, secara tidak kita sadari. Begitu bukan?

Kelelahan Mental dalam Psikologi

Dalam psikologi, kondisi ini sering dikaitkan dengan Maslach Burnout Theory— keadaan di mana seseorang mengalami kelelahan bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan emosional, hingga kehilangan kapasitas untuk peduli, bahkan pada hal-hal yang dulu terasa penting. Ketika terlalu lama berada dalam mode bertahan hidup, bahkan dukungan dari orang terdekat bisa terasa menyesakkan. Bukan karena mereka salah. Tapi karena kita sudah tidak punya ruang lagi untuk menerima apa pun. Dan di titik ini, kita mungkin mulai melakukan hal-hal yang terasa jahat.

Menjauh dari pasangan. Menghindari keluarga. Menutup diri dari dunia.

Tindakan yang sangat hewaniah dan terasa kejam ini sebenarnya adalah salah satu mekanisme bertahan hidup manusia. Ketika otak terlalu banyak menerima stimuli, maka dia akan merasa kelebihan beban dan terancam. Kemudian, otak secara otomatis, akan masuk kedalam mode darurat untuk mengurangi ancaman-ancaman itu secepat mungkin. Hal tersebutlah yang dikenal sebagai Fight-or-Flight Response, sebuah konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh Walter Cannon. Dalam kondisi ini, otak tidak lagi berfokus pada kebahagiaan atau relasi. Fokusnya hanya satu, yaitu BERTAHAN HIDUP.

Dan ketika masuk dalam mode darurat itu, manusia dapat mengalami Emotional Withdrawal. Ditambah lagi, ketika terlalu banyak hal harus dipikirkan dalam waktu bersamaan, otak bisa mengalami apa yang disebut sebagai Cognitive Load, dimana kapasitas mental tidak lagi cukup untuk memproses semuanya dengan sehat. Sisanya hanyalah reaksi insting dan emosional. Inilah yang membuat kita menjadi lebih dingin, lebih cuek dan menjauh dari orang-orang yang sebenarnya sangat ingin menemani kita berjuang. Sungguh sebenarnya bukan keputusan yang bijak, tapi apalah daya.

Apa yang saya bagikan ini memang bukan tentang memperbaiki hidup. Tapi kalau kamu juga sedang ada di titik ini dan masih tetap bertahan, mungkin beberapa hal ini bisa dicoba.

Jadi, how to survive?

1. Just don’t die before the death comes

Jika saat ini kita hanya mampu bertahan, ya be it. Bertahanlah saja, karena percayalah bahwa stress dan frustasi yang kamu rasakan itu tanda bahwa tubuhmu masih bekerja keras untuk menjaga kamu tetap hidup, meskipun rasanya berantakan. Tidak mati dalam kondisi ini, juga sebuah pencapaian.

2. Boleh menjauh, tapi tidak sepenuhnya menghilang

Menarik diri bisa menjadi bentuk perlindungan. It’s ok lah.. Tapi harus disadari bahwa ini fase, yang mungkin akan berubah ketika kamu membaik. Kalau mampu, jelaskan kondisimu ke orang-orang terdekatmu untuk membiarkan kamu menjauh, tapi bukan pergi terlalu jauh untuk kamu kembali jika masih memungkinkan. Well, hal ini akan membuat kamu less jahat walaupun tetap jahat buat mereka yang sakit hati karena tidak mengerti kenapa kamu tinggalkan.

3. Just do the baby steps, baby…

Starting over di usia 40+ bukan tentang lompatan besar, tapi tentang langkah kecil yang cukup untuk membuat kita tidak berhenti sepenuhnya. jadi mari biarkan diri kita kembali belajar dari baby steps even with a bigger body, back pain and anxiety.

Penutup

Terpaksa starting over at 40+ sebenarnya tidak benar-benar “memulai ulang” meskipun dimulai dari titik 0 atau bahkan dari titik minus. Dengan banyak hal yang sudah terjadi pada kehidupan kita, kita hanya mengulangi untuk mencoba belajar berjalan lagi, dengan sisa tenaga yang ada. Bukan dengan versi utuh terbaik kita. Tapi dengan bongkahan dan pecahan yang masih tersisa. Lagipula, tidak ada cara bertahan hidup yang benar-benar “benar”. Tapi bisa jadi, untuk sekedar menikmati harum hujan ditengah kemarau, atau teh chamomile hangat ditengah kekosongan.

Dan mungkin, untuk sekarang, itu saja sudah cukup.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *