“Art is a weapon”
-Diego Rivera
Dan, di tangan Cak Durasim, seni ludruk bukan lagi sebuah hiburan. Ia menjadi senjata yang berbahaya.
Siapa Cak Durasim?
Cak Durasim dikenal sebagai seniman ludruk legendaris dari Surabaya yang aktif pada tahun 1930-1940an. Namun, Cak Durasim bukan sekedar seniman ludruk biasa, dia adalah seorang pejuang yang memilih panggung sebagai ruang untuk bersuara.
Ludruk sendiri adalah merupakan seni pertunjukan Jawa Timur yang mengangkat kehidupan sehari-hari masyarakat dengan balutan humor, dialog dan kritik sosial.
Seni Ludruk sebagai Media Perlawanan
Dengan cerdiknya, Cak Durasim terang-terangan “mengkritik” Jepang melalui humor yang terselip diantara dialog pertunjukan Ludruk. Mengubah cerita tragedi dan kritik menjadi cerita komedi yang sekarang familiar kita temukan dalam materi-materi stand up comedy adalah core Cak Durasim.
Jauh sebelum ada blog dan media sosial, Cak Durasim sudah menggunakan storytelling sebagai medium untuk menyampaikan konten perlawanannya secara kreatif Dan berani.
Kritik Halus yang Berbahaya
“Pagupon omahe doro, melu Nippon tambah sengsoro”
Pantun sederhana ini menyuarakan situasi politik pada saat itu, ketika sebagian masyarakat, termasuk seniman justru aktif menjadi buzzer offline penyebar propaganda bagi pemerintah Jepang.
Melalui pantun tersebut, Cak Durasim menyampaikan kritik yang tajam, tanpa harus berteriak.
Resiko Bersuara di Masa Penjajahan
Terang-terangan kritis di jaman sekarang saja beresiko dikriminalisasi, apalagi pada masa penjajahan dulu.
Cak Durasim pun akhirnya ditangkap oleh otoritas Jepang dan dipenjara hingga akhir hayatnya. Suaranya yang dianggap terlalu berani, harus dibayar dengan kebebasannya.
Warisan Cak Durasim di Surabaya
Sebagai bentuk penghormatan, nama Cak Durasim kini diabadikan menjadi gedung pusat pertunjukan seni dan budaya di area Taman Budaya Jawa Timur, yaitu Gedung Cak Durasim.
Di dalamnya, ludruk masih dimainkan, cerita masih disampaikan, kritik dan realitas kehidupan masih tetap hadir, dibungkus dalam komedi.
Seni, Tawa, dan Realita
Di dalam gedung itu, orang-orang masih tertawa.
Terkadang benar-benar lucu.
Terkadang satir.
Karena hidup ini, pada akhirnya, memang kadang sebercanda itu.

