Di hari Minggu yang sedikit mendung ini, saya punya misi besar : mulai membuat konten yang selaras dengan ceritaSistha. Biar saja dianggap narsis, karena kadang narsis itu dibutuhkan untuk membangun kepercayaan diri seorang individu. Berani bangga sama diri sendiri itu berarti juga salah satu bukti bahwa kita mencintai diri kita sendiri. Setuju kan?
Lalu apakah sudah berhasil selesai? Oooohhh, ya tentu saja belum dong! Ketika saya mulai melihat folder-folder foto dan harus memilih footage yang berharga diantara file-file sampah, otak neuro-divergent saya sepertinya mencari pengalihan. Oh, saya mau bikin teh panas dulu, oh habis ini kayaknya mandi dulu segeran deh, ealah kok ternyata baju di dalam mesin cuci belum saya jemur, jemur dulu lah… Selesai jemur, okay! Mari kita coba lagi untuk menghadapi folder-folder, tapiiiiii… Duh saya lapar, bikin makan malam dulu lah, akhirnya makan sambil chat WA dengan teman saya dan setelah itu tiba-tiba saja tanpa saya sadari, “ya ampun ini anak gajah lucu banget hahaha!”.
EH WAIT!!! Kenapa saya jadi ngurusin anak gajah… Saya yang belum mandi pun memutuskan untuk mencuci muka, kembali ke meja kerja saya dan… astagaaaa… ini teh panas yang tadi saya bikin sudah dingin!! Yang membaca mungkin malah ngakak, padahal saya sempat hampir gila gara-gara terlalu lelah dengan hal ini, soalnya terjadi SETIAP HARI selama puluhan tahun saya menjalani hidup saya.
Oke, kembali kepada cerita konten tadi. Jadi, atas desakan seorang teman, saya akhirnya setuju untuk menjalani sesi konseling dan assesment perilaku di P2TKP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta beberapa bulan yang lalu.
Sebenarnya saya sudah lama curiga dengan kondisi saya yang mungkin inatentive ADHD karena saya kadang unmotivated parah dan merasa bersalah karena mager, tapi di waktu lain justru terlalu impulsif dengan energi yang tidak ada habisnya. Atau mungkin saya justru combined type ADHD seperti kata beberapa teman psikolog, dan orang-orang terdekat saya. Menurut mereka, saya seperti kutu loncat, impulsif, abai (kata Bapak), fokus yang pendek, ingatan mirip Dory, terlalu mudah bosan. Tapi bisa melakukan hal yang saya suka berjam-jam sampai lupa makan minum, padahal default saya selalu lapar.
Ealah, tapi rupanya menurut assessment yang dilakukan oleh mbak psikolog, saya justru berada dalam spektrum Autistic dengan ADHD traits, atau yang sekarang sering disebut AuDHD. Surprise!!
Kaget sih, tapi tidak terlalu kaget juga, karena setelahnya saya justru merasa “relieved“. Saya jadi tahu apa terjadi dengan diri saya, saya juga jadi merasa mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan tentang diri saya sendiri. Ya no wonder saya begini begitu, karena ternyata memang OS default-nya begitu. Dan karena akhirnya saya menyadari tentang cara kerja otak saya yang berbeda dengan orang lain, saya pun jadi merasa lebih mudah untuk meng “hack” diri saya agar tetap dapat berfungsi sebagai seorang manusia pada umumnya yang juga berhadapan dengan tuntutan keluarga, omongan pedas tetangga dan tagihan bulanan.
Nah, sebagai seorang penjelajah semesta, saya berkeinginan untuk membagikan hal-hal dari sudut pandang saya. Bukan hal-hal yang serius seperti Timothy Ronald, bukan destinasi-destinasi viral yang patut dicoba, dan bukan juga hal-hal spiritual yang mistis atau bertujuan untuk menelurkan karya dengan estetika tinggi. Saya hanya ingin membagi, bagaimana saya menikmati hal-hal remeh yang menurut orang lain mungkin tidak ada artinya, topik random yang tiba-tiba muncul di kepala saya, perspektif saya terhadap suatu hal yang menarik bagi saya, atau sekedar bagaimana segelas es amerikano tanpa gula dapat lebih menenangkan diri saya ketika panik ketimbang secangkir teh hangat.
Saya ingin membagikan perjalanan saya, yang mungkin seolah lebih panjang dari orang lain seperti halnya teman-teman neuro-divergent lainnya. Tapi tidak apa-apa, karena hidup bukan sebuah perlombaan.
“Sudahlah, mari kita nikmati saja setiap naik turunnya…”, gumam saya sembari menyesap teh dingin, dan membayangkan salted caramel latte-nya Tomoro yang enak itu hehehe…

